Jaranan Sentherewe


Jaranan merupakan salah satu bentuk kesenian Daerah, seperti halnya Jaranan Sentherewe yang konon lahir di Kediri miski  Kesenian Jararan semarak di wilayah Tulungagung , Jaranan berupa tarian kelompok, dimainkan oleh 4 sampai 6 penari yang menggunakan properti berupa kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu atau disebut jaran kepang, sedangkan di Tulungagung sebenarnya ada jaranan yang lahir di Kedungcangkring Kecamatan Pagerwojo, jaranan tersebut semarak di wilayah kabupaten Trenggalek, nama dari Jaranan itu adalah Turonggo Yakso, selain Jaranan Turonggo Yakso ada Kesenian yang lahir di Tulungagung, dikabarkan  konon Reog lahir di Penampian Desa Geger Kecamatan Sendang, kesenian tersebut adalah Reog Kendang
 Kembali ke Jaranan Sentherewe,  Pada saat ini keaslian tari jaranan Sentherewe  sudah mulai luntur. Sementara kebanyakan masyarakat penikmat sudah tidak mengenal lagi gerak Tari Jaranan Sentherewe, struktur gerak dalam Tari Jaranan Sentherewe terdiri dari gerak-gerak yang disusun sedemikian rupa, yang terdiri dari: (1) terdapat tiga belas ragam gerak dalam Tari Jaranan Sentherewe, (2) motif gerak yang terdapat dalam Tari Jaranan Sentherewe terdiri dari 20 (dua puluh) susunan motif-motif gerak, dan (3) unsur gerak, yang terdiri dari unsur gerak kepala yang terdiri dari 6 (enam) unsur gerak, yaitu sikap tegak, toleh kanan, toleh kiri, gedeg, sendal pancing dan manthuk, unsur gerak tangan yang terdiri dari 6 (enam) unsur gerak, yaitu mentang,tekuk, bumi langit, mecut, nggegem dan pedangan, unsur gerak badan yang terdiri dari 4 (empat) unsur gerak, yaitu sikap mapan, mayug, hoyog dan sikap tegak, dan unsur gerak kaki yang terdiri dari 8 (delapan) unsur gerak, yaitu junjungan, seleh, gedruk, tanjak, jinjit, jengkeng, loncat dan gejug
Mitos Asal Mula Jaranan Sentherewe
Pada jaman Kerajaan Kediri diperintah oleh  Prabu Airlangga, Prabu Airlangga  memiliki seorang  putri yang bernama Dewi Sangga Langit, Dewi Sangga Langgit adalah Putri yang sangat Cantik sehingga banyak sekali para Raja yang ingin mempersuntingnya,  oleh sebab itu Prabu Airlangga  mengadakan sayembara, sayembara berasal dari keinginan putri sangga langit dimana Putri sangga langit meminta; barang siapa yang bisa membuat kesenian yang belum pernah ada di dunia maka dewi sangga langit siap menjadi istrinya.
Akan tetapi sebelum para pelamar sampai di hadapan Prabu Airlangga mereka beradu kesaktian ketika mereka bertemu ditengah jalan, para pelamar semuanya sakti. Dan memiliki ilmu kedigjayaan  yang sangat hebat, Para pelamar tersebut diantaranya adalah Klono Sewandono dari Wengker, Toh Bagus Utusan Singo Barong Dari Blitar, kalawraha seorang adipati dari pesisir kidul, dan 4 prajurit yang berasal dari Blitar,  mereka bertemu dijalan dan bertengkar , dalam peperangan itu dimenangkan oleh Klana Sewandono atau Pujangganom, Pujangganom unggul yudo  melawan Prabu Singo Ludoyo dari Blitar namun Klono swandono tidak membunuh Prabu Singo Luhdoyo, Prabu Singo luhdoyo yang berubah menjadi Singa ber cunduk bulu merak di kunci ilmunya sehingga tidak bisa berubah menjadi Manusia dan Prabu Singo Luhdoyo dipakai irning iring temanten Klanao Swandono dengan Dewi Sangga Langit,
 Iring-iringan temanten itu  berjalan  melewati bawah tanah dengan diiringi oleh jaran jaran  dan alat musik yang berasal dari bambu serta besi, dalam perjalanan mengiringi temantenya Dewi Songgo Langit dengan Pujangganom  Singo Ludoyo beranggapan bahwa dirinya sudah sampai ke Wengker padahal dia masih sampai di Gunung Liman, Singo luhdoyo  marah-marah dan mengobrak-abrik Gunung Liman yang akirnya tempat tersebut di kenal dengan nama  Simoroto.
Setelah Dewi Sangga Langit diboyong oleh Pujangganom ke daerah Wengker melewati Bantar Angin, di Bantar Angin Dewi Sangga Langit berhenti sejenak melihat joget dari iring iring temanten, Dewi sangga Langit sangat gembira dan mengubah nama tempat itu menjadi Ponorogo.
Begitulah Jaranan Senthe rewe  awalnya terjadi  untuk menggambarkan boyongnya dewi Songgo langit dari kediri menuju Wengker Bantar Angin. Pada saat boyongan ke Wengker, Dewi Sangga Langit dan Klana Sewandana dikarak oleh Singo Barong beserta Jaran Kepang Prajurit Singo Barong dan sesampainya di Wengker bantar angin barulah Singo Barong dan Jaran Kepang berjoget pada akirnya munculah Kesenian Reog Ponorogo, jadi bisa disimpulkan kalau Jaranan Senthe rewe dengan Reog pono rogo punya hubungan historis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

seni reog kendang Tulungagung

Tari Kecak Bali